Rabu, 18 Mei 2011 | By: HUTAN KEMASYARAKATAN

Pemimpin Ekoseksual, Pemimpin Ideal Untuk Bumi Sabalong Samalewa


Ketika Al Gore gagal menjadi presiden Amerka gara-gara “ dicurangi” oleh system pemilihan negaranya sendiri beberapa tahun silam, tak banyak yang ambil pusing. Toh konon ia adalah sosok presiden paling tidak popular di Negara itu. Saking tidak populernya, bahan terlalu sering ia menjadi bulan-bulanan lelucon bangsanya sendiri
Tapi ketika Al Gore terpilih sebagai pemenang hadiah nobel perdamaaian pada tahun 2007 lalau, keadaan berbalik.  Banyanya yang menyayankan mengapa Al Gore tidak bias terpilih ketika itu.  Oleh panitia Nobel perdamaain Al gore yang belaanga menadi aktifis lingkungan hidup, dianggap berjasa meyebarkan pengetahuan kepada masyarakat soal anacaman perubahan cuaca global dan membuat makin banyak orang sadar bahwa sesuatu harus dilakukan.
Terkait dengan kasus diatas untuk kontek Kabupaten Sumbawa, sesunguhnya persolan lingkungan hidup harusnya menarik bagi kandidat calon pemimpin serta tim sukses untuk dijadikan tema-tema kampanye pemilihan bupati yang dihelat tahun ini.  Isu-isu lingkungan hidup faktanya kalah pamor dengan berbagai persoalan lain seperti pendidikan kesehatan, perbaikan ekonomi, dan penyedia lapangan kerja.  Padahal, bial ditelisik lebih jauh, persoalan lingkungan hidup mampu mempengerahui berbagai sector tersebut secara signifikan.  Pengaruh itu bergerak serah dengan sikap dan prilaku kita terhadap lingkungan hidup selama ini, positif atau negative.
Ongkos social akibat kerusakan lingkungan hidup
Tentunya masih segar dalam ingatan kami bagaimana Kec. Empang pada tahun 2007 di hantam bencara banjir bandang yang tentunya melumpuhkan berbagai sektor ekonomi, pendidikan, pemerintah, dan perhubungan. Berbagai bencana yang terjadi karena kerusakan lingkungan hidup ini secara langsung telah mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan hidup masyarakat, terutama mereka yang berimbas langsung bencana.  Tak terhitung lagi masyarakat yag tergangu kesehatannya karena kondisi penggungsian yang memperihatinkan, anak-anak kurang gizi, tidak bisa sekolah, dan sebagainya.  Yang tak kalah memprihatinkan adalah rusaknya lahan-lahan mata pencaharian (sawah, tambak) masyarakat akibat tergerus banjirdan meruginya petani samawa akibat  gagal panen yang disebabkan cuaca yang tidak menentu.  Ongkos-ongkos social dan kemanusian tak semuanya mampu ditebus akibat kerusakan lingkungan hidup.
Memang, masalah lingkungan hidup tidak pernah beridiri sendiri karena berkaitan dengan pilihan system ekonomi, politik, social, juga menyangkut hak asasi manusia dan keadilasn pengelolan sumber daya alam.  Menyelesaikan masalah lingkungan hidup dengan tepat berarti memberikan jalan untuk mengurangi beberapa masalah lainnya.  Akar krisi lingkungan hidup menurut A. Sonny Keraf (2002_ dalam bukunya,” Etika Lingkungan” menganggapnya sebagai krisi moral.  Bahkan, Roger S. Gottlieb dalam buku yang editasinya “ This Sacred Earth: Religion, Nature Enviroment” mengatakan bahwa krisi lingkungan hidup sesungguhnya adalah krisis peradaban secara keseluruhan.  Tulisan ini memberikan pesan yang sangat penting ditengah kondisi lingkungan yang kian memburuk.  Adakah sebenarnya solusi alternative yang bias menawarkan sintesis baru bagi sebuah persoalan sebesar dan serumit lingkungan hidup?
 Pemipimpin Eko Seksual Adalah Jawaban
eco seksual adalah istilah baru untuk menyebut gaya hidup urban peduli lingkungan. Eko-seksual adalah budaya tandingan (counter culture) terhadap metroseksual yang muncul lebih dulu. Bila lajang metroseksual adalah individu yang sadar penampilan, yang ditopang pola hidup konsumtif, maka lajang eko-seksual bersikap sadar konsumsi, karena memikirkan dan mengerti konsekwensi ekologis dari setiap barang yang dipakai. Artinya, metroseksual berbasis konsumsi, tetapi eko-seksual berbasis keberlanjutan.  Bila metroseksual berorientasi ragawi rajin membentuk tubuh, sadar fashion, wangi dan trendi aka eko seksual berorientasi visi.  calon pemimpin ekoseksual setidaknya harus memiliki tiga ciri utama yaitu:
pertama, memiliki visi yang jelas tentang pembangunan berwawasan berkelanjutan ekologi bukan bukan berhenti pada pembangunan berkelanjutan.
kedua, tidak pernah terlibat dalam kegiatan yag merusak lingkungan hidup, menseponsorinya, atau mengesahkan peraturan yang merusak lingkungan.
Dan ketiga, tidak menerima dana kampanye dari perusahaan dan pengusaha yang terlibat dala kasus lingkungan hidup, atau potensial menimbulkan kerusakan dan pencemaran.
Menurut Lukman F. Mokoginta, sosok pemimpin harus senantiasa memiliki makna dan fungsi yang luas serta multidimensi.  Ia bukan sekedar administrator dan manajer, tapi juga educator, pelindung dan panutan masyarakat.  Karena itu, rekrutmen pemimpin hendaknya dilakukan dengan cermat dan hati hati agar mengahsilkan primus interpares yang bias diterima oleh semua pihak.  Karenanya track record seseorang calon pemimpin hendaknya dikajidengan seksama, terutama dalam aspek moralitas, integritas pribadi, kemapuna manajerial, serta komitmen terhadap demokrasi terutama dalam soal transparansi dan akuntabilitas.
Pemimpin ideal adalah pemimpin yang mampu mengintegrasikan dirinya kedalam lingkungan dimana dia berada, memahami berbagai realita yang terjadi di masyarakat dan lingkungan yang ia pimpin untuk diarahkan kepada tujuan dan harapan/aspirasi bersama.  Ia bukan sosok yang melayang di awing-awang, membuai masyarakat dengan lontaran gagasan yang hanya indah di dengar, melainkan yang memiliki konsep konkrit, logis dan realistis yang dapat dijalankan oleh masyarakat dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat dan lingkungan.(erdi)

0 komentar:

Posting Komentar